
Kegunaan Analisis Kimia Air
Memperkirakan system panas bumi yang terdapat dibawah permukaan (temperature, jenis reservoir, asal mula air) dan mengetahui sifat fluida (korosifitas & kecenderungan untuk membentuk scale)
- Cl merupakan unsur penunjuk bersifat konservatif (tetap). Kehadirannya cukup melimpah pada reservoir panas bumi, tetapi tidak ditemukan di dalam air meteorik. Cl dapat dijadikan acuan kehadiran zona permeable dalam suatu eksplorasi.
- SO4 terbentuk karena proses zona kondensasi. Umumnya sulfat akan muncul di zona upflow.
- HCO3 diukur sebagai karbonat total. Umumnya hadir sebagai bagian pinggir/peripheral dari sistem panas bumi. Unsur ini sangat diperlukan untuk menghitung pH reservoir dan memprediksi potensi scaling kalsit.

- Na dan K diperlukan untuk mengitung temperature reservoir berdasarkan geotermometer Na-K-Mg dan Na-K-Ca.
- Ca diperlukan untuk menghitung temperatur dengan menggunakan geotermometer Na-K-Ca dan untuk mengetahui potensi terbentuknya kalsit.
- Mg diperlukan untuk mengitung temperature reservoir berdasarkan geotermometer Na-K-Mg.
- Kemunculan Mg juga baik untuk menunjukkan adanya indikasi percampuran dengan air tanah.
- Na dan K diperlukan untuk mengitung temperature reservoir berdasarkan geotermometer Na-K-Mg dan Na-K-Ca.
- Ca diperlukan untuk menghitung temperatur dengan menggunakan geotermometer Na-K-Ca dan untuk mengetahui potensi terbentuknya kalsit.
Mg diperlukan untuk mengitung temperature reservoir berdasarkan geotermometer Na-K-Mg. - Kemunculan Mg juga baik untuk menunjukkan adanya indikasi percampuran dengan air tanah.

- SiO2 dapat digunakan sebagai geotermometer reservoir panas bumi. Selain itu, silika juga dapat digunakan untuk menghitung pH reservoir.
- B dan Li digunakan sebagai indikator asal fluida/ kesamaan reservoir. Selain itu, juga baik digunakan untuk mengetahui jenis batuan di reservoir.

Pengujian Sampel
- Ion Balance : ∑Anion (meq) = ∑Cation (meq)
- Mass Balance : = TDS (mg/kg) / ∑ solute concentration (mg/kg)
Perbedaannya harus < 5%